whats happening



Saturday, November 1, 2008

Package

I found this cool tour package.

GWK Uluwatu & Tari Kecak, diner (MM)

Jam jemputan 16.00 (5 jam)

Taman GWK Patung Dewa wisnu yang mengendarai burung Garuda, Pura Uluwatu & nonton tarian Kecak makan malam di tepi pantai Jimbaran


Paket

Harga

Termasuk

Harga per orang (min 2 orang)

250,000

Mobil Full AC +sopir +BBM +Tiket +Makan siang/malam

After conversion, it's like RM81 only. Don't know this package validty though.



Kecak dance

The Kecak is an unusual Balinese dance for a couple of reasons.

First, there is no musical accompaniment. The gamelan is not there. Rhythm is provided by a chanting 'monkey' chorus. The polyrhythmic sound of the chanting provides the name,
'Ke-chak'.

The fifty men chorus gathers in a ring around a flame, to create a stage. They also act as various monkey armies in the story, and become an undulating snake in one of the pivotal scenes.

With only the flame as lighting, this performance takes on a primeval feel, especially when staged outside the hotel setting.

Secondly, the Kecak dance is the only dance that was invented for the tourist, it is almost never watched by a Balinese.

he story line for the Kecak is taken from the Ramayana.

Prince Rama goes hunting for a golden deer and his beautiful wife is kidnapped by the evil Rawana.

Story is secondary in this performance, though. If you want to see the story of the Ramayana, you should see a Ramayana performance.

The Kecak is a triumph of style and mood, rather than story. Watch the faces of audience members. More than any other Balinese dance, the Kecak turns every viewer into a child, wide-eyed and transfixed.



Taman GWK Patung Dewa wisnu

Patung Garuda Wisnu Kencana berlokasi di Bukit Unggasan - Jimbaran, Bali. Patung ini merupakan karya pematung terkenal Bali, I Nyoman Nuarta. Monumen ini dikembangkan sebagai taman budaya dan menjadi ikon bagi pariwisata Bali dan Indonesia.

Patung tersebut berwujud Dewa Wisnu yang dalam agama Hindu adalah Dewa Pemelihara (Sthiti), mengendarai burung Garuda. Tokoh Garuda dapat dilihat di kisah Garuda & Kerajaannya yang berkisah mengenai rasa bakti dan pengorbanan burung Garuda untuk menyelamatkan ibunya dari perbudakan yang akhirnya dilindungi oleh Dewa Wisnu.

Patung ini diproyeksikan untuk mengikat tata ruang dengan jarak pandang sampai dengan 20 km sehingga dapat terlihat dari Kuta, Sanur, Nusa Dua hingga Tanah Lot. Patung Garuda Wisnu Kencana ini merupakan simbol dari misi penyelamatan lingkungan dan dunia. Patung ini terbuat dari campuran tembaga dan baja seberat 4.000 ton, dengan tinggi 75 meter dan lebar 60 meter. Jika pembangunannya selesai, patung ini akan menjadi patung terbesar di dunia dan mengalahkan Patung Liberty.



Pura Uluwatu

Pura Luhur Uluwatu atau Pura Uluwatu merupakan pura yang berada di wilayah Desa Pecatu, Kecamatan Kuta, Badung.

Pura yang terletak di ujung barat daya pulau Bali di atas anjungan batu karang yang terjal dan tinggi serta menjorok ke laut ini merupakan Pura Sad Kayangan yang dipercaya oleh orang Hindu sebagai penyangga dari 9 mata angin. Pura ini pada mulanya digunakan menjadi tempat memuja seorang pendeta suci dari Abad 11 bernama Empu Kuturan. Ia menurunkan ajaran Desa Adat dengan segala aturannya. Pura ini juga dipakai untuk memuja pendeta suci berikutnya, yaitu Dang Hyang Nirartha, yang datang ke Bali di akhir tahun 1550 dan mengakhiri perjalanan sucinya dengan apa yang dinamakan Moksah/Ngeluhur di tempat ini. Kata inilah yang menjadi asal nama Pura Luhur Uluwatu.[1]

Pura Uluwatu terletak pada ketinggian 97 meter dari permukaan laut. Di depan pura terdapat hutan kecil yang disebut alas kekeran, berfungsi sebagai penyangga kesucian pura.

Pura Uluwatu mempunyai beberapa pura pesanakan, yaitu pura yang erat kaitannya dengan pura induk. Pura pesanakan itu yaitu Pura Bajurit, Pura Pererepan, Pura Kulat, Pura Dalem Selonding dan Pura Dalem Pangleburan. Masing-masing pura ini mempunyai kaitan erat dengan Pura Uluwatu, terutama pada hari-hari piodalan-nya. Piodalan di Pura Uluwatu, Pura Bajurit, Pura Pererepan dan Pura Kulat jatuh pada Selasa Kliwon Wuku Medangsia setiap 210 hari. Manifestasi Tuhan yang dipuja di Pura Uluwatu adalah Dewa Rudra.[2]

Pura Uluwatu juga menjadi terkenal karena tepat di bawahnya adalah pantai Pecatu yang sering kali digunakan sebagai tempat untuk olahraga surfing, bahkan event internasional seringkali diadakan di sini. Ombak pantai ini terkenal amat cocok untuk dijadikan tempat surfing selain keindahan alam Bali yang memang amat cantik.

No comments: